Social Icons

twitterfacebookgoogle pluslinkedinrss feedemail

Minggu, 17 Maret 2019

Suroboyo keren dino iki


  Festival Rujak Uleg dalam rangkaian peringatan ulang tahun kota Surabaya yang ke 726 tahun kembali digelar. Pagi ini minggu  (17/3/2019). dimulai sekitar pukul 7.30 WIB ribuan peserta dari warga kelurahan dan kecamatan se-Surabaya, BUMN, BUMD, perbankan, hotel, restoran, komunitas, perguruan tinggi, dan sekolah-sekolah di Surabaya.
Mereka berlomba menyajikan kreasi terbaik mereka
         
  Ibu Tri Rismaharini selaku walikota Surabaya membuka sendiri secara langsung acara Festival Rujak Uleg pagi tadi. Dalam sambutannya Bu Risma ( sapaan akrab walikota kelas dunia ) menyampaikan pentingnya menghargai berbagai perbedaan yang ada sehingga kerukunan warga kota Surabaya khususnya , dapat terus terjalin dengan baik. Kita semua ini bersaudara, kita tidak boleh saling bermusuhan, dendam, benci. Tidak ada agama apapun yang mengajarkan dendam," ujar Wali Kota Risma dalam sambutannya.



Team Kelurahan Gundih 
 
 
   Antusiasme warga kota Surabaya dalam acara ini sungguh sangat luar biasa, berbagai dandanan serta kostum unik mereka tampilkan dalam gelaran pagi tadi. Tak lupa yel - yel yang menjadikan ciri khas masing -masing sebagai penyemangat dalam menguleg bumbu juga menjadi daya tarik tersendiri bagi pengunjung.
Dalam acara kali ini juga menghadirkan Museum rekor Indonesia (MURI) untuk menyaksikan pemecahan rekor festival Rujak Uleg tahun ini. 2 rekor Muri terpecahkan sekaligus tahun ini, yakni Festival Rujak uleg dengan peserta terbanyak yang mencapai 1.784 peserta dan 294 grup serta adanya Cobek Raksasa dengan diameter mencapai 2,5 meter yang terbuat dari Batu Gunung.



Kelurahan Gundih masuk nomiasi 60 terbaik

        Tak ada yang menang tak ada yang kalah, semuanya merasa menjadi pemenang di kota Surabaya ini, semua warga kota tersenyum lebar menyaksikan kegilaan warga dalam menyajikan rujak uleg. Surabaya harus terus berkreasi demi menarik wisatawan mancanegara berkunjung ke Surabaya,demi Surabaya bisa dilihat di mata dunia.





(Reporter : Edwin  editor : KIM Gundih)
Print Friendly and PDF

Tidak ada komentar:

Posting Komentar